Minggu, 09 Februari 2014

Beri aku satu nama

Untuk wanita yang belum ku tahu nama nya.

Teringat jelas hujan sore itu, kau nampak sedang berteduh di satu toko yang kebetulan sedang tutup. Pandanganmu fokus pada tanah yang dibawah, tanganmu sedikit gigil. Terlintas pertanyaan dalam benakku saat itu, "Kenapa yaa dia?". Kau terlihat cantik saat itu, memakai kaus polos, dengan celana jeans yang sedikit robek, juga rambutmu yang dikuncir satu. Kau begitu sederhana, aku suka.

Bodohnya, aku tidak ada keberanian untuk menghampirimu, sekedar menjadikanmu teman ngobrol. Keadaan saat membingungkan waktu itu, seraya ada dua orang kembar dibahuku, yang disebelah kiri berupa bayanganku sendiri, namun terlihat sangat culun, ia bilang "Tidak, aku takut". Dan di bahu kananku ada bayangan berupa jagoan, ia bilang "Ayodong, temui dia sekedar bertanya siapakah namanya". Hampir lama mereka berdua berdebat, namun alih-alih bahu kiriku lah pemenangnya. Mungkin kau terlalu indah, sampai-sampai aku tidak berani menghampirimu.

Sangat disayangkan, hujan berhenti begitu cepatnya. Seolah langit tak merestui kedekatan kita. Kau dengan sigap kembali lagi ke sepedamu, kau tunggangi dengan anggun, jelas terlihat bodi ramping dari belakang, lengan baju yang sedikit kau lipat memberiku celah melihat mulus pangkal lenganmu, sungguh indah tanpa polesan. Bergantian kakimu mengayuh, satu persatu mulai menjauh, dag..dig..dug bergetar hatiku melihat liuk bokong besarmu. Kini kau jauh memunggungi, tanpa meninggalkan nama.

Andai ada pertemuan kedua. Pasti aku berusaha untuk menginjak-nginjak rasa takutku dan segera berkata. "Kalau boleh tahu, siapa namamu?"

Sabtu, 08 Februari 2014

Surat untuk badut - badut serakah.



"aaakkk, giliran ku sedikit lagi"

"Hey kakek, berisik sekali kamu, bisa diam gak? aku sedang asyik menggerogotimu"

"Diam? Enteng sekali bicaramu, aku takut, yap."

"Ahh, badan saja kau besar, rambutmu tebal, batangmu keras, serta jari-jari yang kuat. Tapi kau punya rasa takut juga? Dasar cemen"

"Lihat badut-badut itu, asyik dengan mesin pemotongnya, tertawa ia tanpa ada rasa tanggung jawab, jelas aku takut, begitu juga mereka saudara ku. Memangnya kamu yang hanya asyik memakan kami tanpa ada perasaan iba."

"Ah dasar, baiklah, aku akan membantumu, apa saja yang kamu mau, sebutkanlah"

"Hmm, kau yakin? Baiklah. Tolong tulis satu surat dibadan ku, tulis untuk mereka dan mesin pemotongnya yang serakah itu. Ayo mari, pahatlah wahai rayap yang menyebalkan"

"Baiklah"

Hey, bangsat. Aku sengaja memanggil kalian badut. Perut kalian besar, isinya pasti tangisan saudara-saudaraku. Dasar kalian picik, berjuang hidup walau harus menyusahkan kami, demi kantong pribadi kalian masing-masing. Taukah kalian kalau kami pusing? mendengar gergaji mesin yang tak pernah berhenti? Tega kah kalian mendengar rimba menjerit? mungkin nasibku tidak akan selamat. Aku ikhlas. Tapi aku takut setelah ini, bencana banjir selalu datang menghantui. Sedang kalian asyik berpesta dengan duit haram kalian sendiri. Hanya satu pesanku, bertaubatlah


"Sudah, aku sudah menulisnya sesuai dengan yang kau pinta, sekarang memejamlah. Dikit lagi giliranmu, maafkan kesalahan-kesalahanku. Walau bagaimanapun juga, aku mencintaimu. Selamat jalan"

"Terimakasih, Rayap. Walau kau begitu menyebalkan, Tapi kau sangat baik. Lalu kau mau apa setelah ini?"

"Aku mau memarahi badut-badut serakah itu, aku mau meluapkan semua emosiku padanya"

"Baiklah kalau begitu, tapi hati-hati, anak-anakku, adikku, serta saudaraku mati ketika ingin memarahinya untuk melindungiku. Aku harap itu tidak terjadi padamu. Sungguh, aku menyayangimu, sahabat."

"Tenang saja, walaupun harus mati, itu sudah suatu yang impas dengan apa yang selama ini telah kau berikan padaku. Baiklah, aku ke medan perang dulu"

Kamis, 06 Februari 2014

Bocah yang kuanggap Bapak.


Teruntuk lelaki yang pemberani.

Kau ingat percakapan singkat kita waktu itu? Sebelumnya, saat itu aku sedang melakukan perjalanan menuju rumah kekasihku, Clara namanya. Nama yang cukup sederhana untuk wanita yang sangat istimewa. Perjalanan ku dimulai saat matahari terik-teriknya. Saat itu ramai penduduk kota bertebaran dijalan, lalu lalang kendaraan membuat asap polusi tak terkendali, yang menyebabkan pepohonan ingin memuntahkan mual dengan segera, pada saat itu aku sedang asyik menyeruput kopi di warung yang tak begitu mewah, cukup nikmat kopi yang ku minum saat itu, mungkin karna semangat ingin kerumah sang kekasih.

Teralih kepala saat itu. Tak sengaja aku melihatmu sedang asyik duduk di koridor jalan raya, sembari jari tangan menghitung beberapa uang ribuan, dan tak sedikit kulihat banyak uang logaman. Aku salut, pandai sekali kau mencari uang pada umur yang kubilang bukan saatnya kau mencari uang.

Karna sangat penasaran dan terkesan, kupanggil dan kau menghampiri. Ingatkah kau saat itu, kawan? kuharap kau ingat, ya. Dengan menaruh uang pendapatan ke saku celanamu, sambil menenteng gitar yang kubilang sangat mungil, kau menyebutnya itu ukulele, kau menghampiriku dengan cepat. Tak bagus rupa ukulele itu, banyak bagian cat yang terkelupas oleh panasnya sang raja siang, aku rasa.. kulitmu juga ikut terbakar bersamaan dengan gitar mungilmu itu, bedanya.. sakitmu tak terlihat.

"Siapa namamu?" tanyaku saat itu. "Budi mas" Kau menjawabnya dengan sangat sopan. "Kamu tidak sekolah, inikan masih jam sekolah?", tanyaku dengan segala rasa penasaran. "Oh, tidak mas. Kedua adikku yang saat ini sedang sekolah. Aku, tidak. Aku kan bapaknya. Tapi sayang, ibu mereka ibuku juga. Haha" Saat itu kau malah melawak. "Aku serius, Bud" Tegasku. "Loh aku lebih serius toh mas. Bapakku dipenjara, saat itu ia ketahuan masa sedang mencuri TV milik warga, yang kebetulan tetanggaku juga. Buat makan kami katanya" Katamu sambil tertawa. "Lalu kenapa kau tidak mencuri seperti bapakkmu? haha" aku meledek. "Woalah, ndak mas. Masa aku mau ikuti jejak bapak. Emoh aku." Katamu.

Saat aku menulis surat ini, aku sedang asik bercerita perjalan hidupmu pada kekasihku. Ku hebat-hebatkan kamu dimatanya. Aku bilang, aku bangga bertemu denganmu. Aku bangga bertemu gitar yang kau sebut ukulele itu, ukulele yang senarnya diciptakan dari tabah ibumu. ukulele yang leher dan bodinya tercipta dari keberanian bapakmu. ukulele yang sisa komponennya terbuat dari doa adik-adikmu. Dan secara kesatuan, Ukulele itu menjelma menjadi dirimu. Budi adalah Ukulele. Dan Ukulele adalah Budi. Sebab, separuh jiwamu ada pada benda mata pencarianmu itu.

Tau apa yang dibilang kekasihku tentangmu?, ia penasaran dan berkata "Lalu apa? bagaimana kelanjutannya?Aku melanjutkannya..

Lalu aku membangga-banggakanmu lagi. Aku bilang padanya, kamu menggantikan bapakmu sebagai kepala keluarga. Kaubilang, ibumu sudah renta dan kau tak tega melihatnya kerja. Lalu kau beranikan diri menampar kerasnya kehidupan, kau lipat rapi-rapi rasa ketakutan, kau lahap dengan tenang segala keragu-raguan. Kau turun kejalan semata ingin mendapatkan beberapa uang untuk keluarga makan, kau beralih dari angkutan umum satu ke angkutan umum yang lainnya. Kau sulap air matamu menjadi sebuah notasi, kau sulap isi hatimu menjadi lirik lagu, kau sulap sakit dihati menjadi pelipur lara, hatimu berteriak ikhlas, menyanyi tanpa malas, walau banyak yang sengaja menghiraukannya, bahkan ingin dirimu segera tuntas.

Aku tak tahu pasti apa yang kau rasakan, tapi batinku seolah mengerti. Bahwa apa yang kau rasakan, sama dengan apa yang kupikirkan.

Lalu, aku tahu. Mulutmu seakan mau menganga bilang "aku tak sanggup". Tapi rasa tanggung jawabmu segera cepat-cepat menusuk dan mengancam ingin memutuskan urat lehermu jika kau menyerah. Maka dengan respon cepat, kau menyanggupkan.

Lalu, aku tahu. Busik tangan dan kakimu pertanda, bahwa matahari sangat bersahabat pada keduanya. Tanpa manja kau mensyukurinya, tanpa memakai krim anti matahari pun kau tak apa-apa. Sungguh kau sangat menikmatinya.

Dan tahukah kau perkataan kekasihku setelah mendengar kisahmu, Bud?

Kekasihku bilang.. "Pertemukan aku dengan dia!!! aku ingin tahu lelaki kecil itu yang bisa membuat pacarku menangis ketika bercerita".Dia bilang seperti itu, Bud. Ia benar, aku menangis. Aku menangis menceritakan kisahmu kepadanya. Untuk seorang lelaki, sebenarnya aku malu menangisi seorang lelaki juga. Tapi, tidak untukmu, Bud.
Saat itu kau bilang, kau tidak bisa membaca. Dan aku berjanji akan mengirimkan surat ke alamat rumahmu. Dan aku bilang janganlah kau memohon orang lain untuk membacakannya. Sebab, aku ingin, kau bisa membaca surat ini tanpa bantuan. Sampai kau bisa membacanya sendiri, minimal mengeja surat ini.

Entah kapan surat ini kau baca. Atau kau terlalu sibuk untuk bekerja sehingga tak sempat membaca? Tak apa. Bertemu mu membuat aku merasa lebih bahagia. Sesederhana itu.

Bertemu mu mendapat sebuah pelajaran. Kadang, hidup ini terlalu bengis, tak adil, dan mau tidak mau kita siap menerima apapun penetapannya. Padahal tidak. Haruskah kita pasrah? tidak. Sebab kalau kita mau melawan, kita menang, karna dari lahir, kita ini bukan pecundang. Melawan jutaan sel sperma, dan lahirlah kita."


Dan yang paling aku ingat adalah, ketika kau bisikan kata-kata ke telinga ku, Bud:
"Kalau kalian bilang manusia itu berbeda kasta. Kalian salah. Lihat saat kita menjadi sperma. Semua sama, botak dan mempunyai buntut seperti kecebong. Dan mengertilah kalian, jangan sombong."
Sekian dari saya, Bud. Aku mengagumimu.


Tertanda,
Seorang yang pernah kau pinjamkan ukulele.

Rabu, 05 Februari 2014

Dialah perempuan itu; Ibu



Jelas terpampang didepan mata, wajah cantik nan jelita, hidungnya yang mancung, rambut bergelombang, (yang sengaja dihitamkan oleh pewarna rambut), pipinya yang merona, alisnya yang hitam menyala, juga bibirnya yang merah merekah, sedang asik duduk di meja riasnya.

"Bu.."

Ibuku masih terdiam, asik dengan gincu yang ditorehkan ke bibir tebalnya.

"Bu.." Ucapku lagi.

"Iya, kenapa nak?"

"Kau mau kemana, tetaplah dirumah. Siapa yang menjaga kedua adikku. Aku masih terlalu kecil untuk menjaganya, bu." Ucapku memohon agar ibu tak meninggalkan rumah.

"Ayolah nak, kamu kan sudah besar, sudah kelas 1 Sma, apalagi kamu lelaki, lagipula.. kalau ibu tidak bekerja, siapa yang membiayai sekolah kamu, juga adik kembarmu yang kebetulan masih duduk dibangku 5 sekolah dasar?, tau kenapa almarhum ayahmu memberimu nama Argani? Sebab, ia mau kelak anaknya menjadi pemberani. Sudah, dengar saja kata ibu, jangan jadi pengecut. Jaga adikmu baik-baik sampai ibu kembali pulang" Ibu memberi pengertian.

"Ngg.. tapi bu.. yasudahlah, baik bu" Akupun meng-iyakan.

Sudah dua minggu belakangan ini, aku mulai curiga sama apa yang dikerjakan ibu. Bagaimana bisa ibu meninggalkan pekerjaan yang sudah 3 tahun dilakoninya, dan mendapat pekerjaan baru yang kurasa tidak normal.  Iya, dulu  ibuku seorang kuli cuci, gaji yang sedikit hanya mampu memberi makan kami saja, uang sekolah nunggak berbulan-bulan. Namun, dengan pekerjaan barunya, ibu mulai bisa melunasi dikit demi sedikit hutangnya pada sekolah. Dari situlah, awal timbul kecurigaan.

---

"Raka..Riki.. tidurlah cepat, besok kalian masuk sekolah pagi, kan?"

"Iya bang" Ucap mereka serempak, aku bingung, mengapa mereka selalu kompak.

"Bang, ibu kemana sih? kenapa dia gak betah dirumah? dia gak sayang ya sama kita?" Raka bertanya.

"Hush, gak boleh gitu, gak ada ibu yang gak sayang sama anak-anaknya. Sudah cepat tidur, tarik selimutnya lalu berdoa"

"Baik bang"

---

Aku terbangun dari tidurku yang nyenyak, saat itu pukul 3.30 pagi. Aku masih terjaga saat itu, dua bocah yang kuanggap malaikat masih asyik dengan tidur pulasnya. Juga dengkur halusnya yang tak kalah merdu oleh putaran kipas angin. Pagi itu dingin, kulihat gigil di kaki Riki, ternyata selimut asik dikuasai Raka. Dengan penuh cinta, kuambilkan selimut dari lemari tua sepeninggalan ayah. Kembali dengan penuh cinta, kubalutkan selimut pada Riki, adik bungsu ku itu. Aku sontak kaget, ternyata dia tak tidur, sepenggal kalimat dilontarkannya, "Untuk abang yang berhati sutra, terimakasih atas kasihmu, terimakasih atas sayangmu pada kami, aku, mencintaimu dengan sungguh", entah darimana adik bungsuku mendapatkan kata-kata itu. Yang jelas hati bangga bercampur haru mendengar perkataan sederhana itu.

"Dik, terimakasih, kau baik sekali" Pujian itu kulontarkan dengan penuh keikhlasan.

"Maka dari itu, tak sia bapak dan ibu mengajarkan tentang kebaikan, hehe" Katanya sedikit bercanda. "Sudahlah, kembali tidur, pakai selimut itu agar kau tak kedinginan lagi" Kataku sambil meninggalkannya.

---

"Kreeekkk..." terdengar suara pintu yang seolah terbuka, aku kaget, ibuku pulang tak seperti biasanya. Biasanya ia pulang sekiranya 15 menit setelah adzan shubuh berkumandang. Kenapa sekarang pulang lebih cepat? Kini ia tampak kurang cantik, rambut kucel, gincunya yang tak merah lagi, pipi kirinya yang sedikit lebam. "Bu, kenapa sudah pulang? juga mengapa kau begitu berantakan?", "Lalu kenapa dengan pipi kirimu, rona nya pudar, kini yang kulihat biru lebam. Kenapa bu?, dengan penasaran aku terus meng-interogasikannya.

"Apalah kamu ini, macam polisi saja bertanya-tanya haha" Rupanya ibu malah mengajak bercanda anak sulungnya.

"Aku serius, bu"

"Sudahlah, sudah mau adzan, cepat ambil air wudhu, bangunkan adikmu lalu kita sholat berjamaah"

"Ah, ibu menyebalkan"

---

kini hatipun sedikit tenang, ternyata benar, wudhu dan sholat adalah alternatif yang tepat untuk jiwa yang gundah. Tapi aku masih sedikit penasaran, kenapa ibu bisa berantakan sekali pagi itu? apakah benar yang dikatakan tetangga mengenai ibu; bahwa ibu adalah seorang pesolek.

Saat itu aku masih terjaga, rasa penasaran terus memukul-mukul pikiran, dalam selimut.. aku mendengar doa ibu muda yang cantik jelita, ia ibuku. Asik berdoa diatas sajadah usangnya. Banyak kata yang kusimak, rupanya ia berdoa dengan sungguh, entah berapa butir berupa bulir jagung yang turun melewati dagu panjangnya, ia khusyuk berdoa, tanpa rasa malu ia merengek dihadapan tuhan sambil menadahkan kedua tangan mulusnya, dengan sempurna ia melafalkan doa untuk ketiga anaknya, Raka, Riki, dan Saya pun diikut sertakan dalam doanya. Sedikit yang kuingat dalam doanya.

"Tuhan, aku sudah menghamba dihadapanmu pagi ini tuhan. Dengan penuh harap aku berdoa untuk segala kebaikan, mungkin aku akan mengawali doa untuk ketiga anak-ku, beri mereka kecerdasan, beri mereka rezeki, jadikan mereka anak yang berbakti pada orang tua. Tuhan, jika kau jijik mendengar doa dari pesolek seperti saya. Tak apa. Namun, aku tak akan berhenti berdoa untuk kebaikan malaikat-malaikat yang kupunya. Tuhan, jika masih dibukakan pintu maaf, maka aku akan mengampun padamu. Tuhan, tidakkah kau tahu? Menjadi apa yang tidak kita ingin itu menyakitkan? Seraya berlomba memasukan benang kedalam jarum, demi mendapatkan hadiah kita melawan segala resikonya, mana tahu duri itu menancap jari kita sendiri. Sakit bukan?, aku harap engkau memaklumkan, jika tidak dengan cara cepat mencari uang seperti ini.. lalu dengan apa anak-anakku dapat makan? teruntuk tuhan yang maha pengertian, sekali lagi aku mohon, ampunkan diri ini yang sudah terlanjur mengetahui resikonya menancapkan benang ke jarum tadi. Walau ku mengetahui akhirnya, tetap kulalui. Sekali lagi, saya meminta ampun. Saya bertaubat. Dari saya, Wina."

Tercengang ku mendengar doa serta pengakuannya, ternyata pesolek itu ibuku. Yang dibilang mereka benar adanya, Sudah jelas, ibuku adalah seorang pesolek. Entah apa yang harus kurasa. Sedih melihat kenyataan bahwa ibuku mencari duit dengan cara yang tidak halal? atau Bangga melihat ibu yang terpaksa menjadi apa yang tidak diinginkannya demi menghidupi ketiga anaknya? Yang pasti, aku bangga. Terimakasih ibu.

Kini kau sudah tertidur, kau sudah berwudhu, kau sudah bersih dari jamahan beribu-ribu pria. Dan yang aku bangga, aku mendengar kata taubat mu tadi. Oiya, bu, ada sepenggal pesan dibawah bantal yang sengaja kuselipkan, mungkin ketika nanti kau baca, aku sedang tidak dirumah melainkan disekolah.

"Kini aku mengerti. Kau telah mengajarkanku satu hal. Bahwa didunia ini sebenarnya tidak ada orang jahat. Hanya saja, mereka terpaksa memainkan peran Antagonis, sehingga dicap sebagai makhluk paling bengis."


Clar, tunggu aku.


Selamat pagi, Clar.
Saat menulis surat ini keadaanku sedang benar-benar baik, bahkan lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Mungkin aku terlalu semangat menulis surat ini. Ditemani dengan sesachet kopi yang kubeli di warung pagi tadi, aku menyeduhnya, menuangkan bubuk kopi kedalam cangkir berisikan 150 ml air panas, dengan Choco Granule yang kutanam dibusanya. Sesekali aku mengesapnya, wanginya sama seperti saat aku meringkuk di ketiakmu, Clar. Lalu aku menyeruputnya, dan meninggalkan bekas busa yang tertempel di bibir. Sayangnya, kau tak disisi, Clar. Melumat bibir ku hingga habis, sampai kita benar-benar lupa bahwa busa itu sempat ada.

Oh, iya. Bagaimana kabarmu, Clar?
Kamu masih suka dengan hobimu itu, hobi yang membuat ibumu sedikit jengkel dikala musim hujan tiba? Masihkah? Sebab, kau lebih suka mematung dibalik jendela ketika hujan tiba, seraya asik berdansa dengan segala yang kau derita bersama sang hujan. Maka dari itu, saat kau diam mematung, kau abaikan perintah ibumu, sama sekali tak goyah, sama sekali tak pindah sebelum hujan redah. Dan tak lupa aku kejadian saat kita berada di cafe, disuatu tempat. Saat itu hujan tiba, kita duduk tepat disamping sebuah jendela, yang kalau kita melihat keluar, jelas terpampang suatu keindahan disana. Saat itu hujan, dan jendela pun berembun. Ingatkah kamu, Clar? Lalu dengan tanganmu itu kau tulis sebuah nama pada jendela yang berembun, "Clara sayang Galang.", Taukah, Clar? Aku rindu itu. Pokoknya aku rindu semua tentangmu. Tentang kita.


"Maaf Clar telah membuatmu flashback, aku tak bermaksud. Aku hanya rindu, sesederhana itu."
Kabarku baik, Clar.
Kau tak perlu khawatir, disini aku bisa menjaga diri sebaik mungkin. Hanya saja, ada yang susah untuk ku lawan, yaitu; rindu yang membuncah.  Masih teringat jelas ketika saat itu, aku berada dipangkuanmu, menumpahkan semua getir kehidupan di dada legamu, merasa tercebur jiwaku dilahap matamu yang sendu, juga saat sepotong lirik lagu iwan fals yang kau lantunkan, "memang usia kita muda, tapi cinta soal hati... biar mereka bicara, telinga kita terkunci.". Seakan kau benar-benar mau meyakinkan ku dalam pangkuan, bahwa tak perlu lagi ada yang didengar, tutup semua telinga, kita nikmati semua yang ada, padamu; kau yakinkan semua itu.

Duh, maaf Clar, kamu punya sapu tangan ndak?, oh iya, bukannya sapu tangan merah maroon ku masih dikamu? Laptop ku basah nih, boleh aku meminjam untuk mengelapnya?
Iya, itu air mataku. Mungkin itu disebabkan oleh kantung mata yang menyimpan bebannya, memang.. menahan isak tangis itu bukan suatu yang dianjurkan juga suatu hal yang tak perlu dilakukan, sebab ia hanya dapat menampung seketika, dan pada beban beratlah ia pecah, aku rasa, kamu juga sama.

Clar, jika tiap malam diatas sajadah milikmu kau bersimpuh, memohon layaknya seperti aku. Bahwa kau ingin sekali pertemuan. Maka tuhan akan mengabulkan, aku akan ke kotamu, lusa nanti.

Kini, aku ingin mengenalimu dengan teman baru, dia menemanimu sampa nanti aku tiba didepan pintu dan mengetuk pilu rindu. Kenalkan, namanya adalah: Kesepian.  Tenang saja, dia sangat baik. Tapi ingat, kau harus baik padanya juga. Oh, iya. Tentang orang-orang yang bilang bahwa kesepian itu jahat, mereka salah. Orang-orang yang bilang jahat padanya adalah orang yang terus menghakimi dirinya, bahwa kesepian adalah suatu rasa yang tak harus dirasakan. Maka dari situ, kesepian benar-benar murka, lalu dibuatlah orang yang menghakiminya menjadi sepi se-sepi-sepinya.

Aku harap kamu mempunyai jiwa yang besar, bermainlah dengan teman barumu itu. Jangan dinakali. Jika kau benar ikhlas menerimanya sebagai teman, maka ia berjanji tidak lagi menjadi sepi, ia berupaya menjadi diriku, menggenapkan kekosonganmu dengan bayangku. Tahan rindu itu sebentar, terbiasalah pada sepi. Sampai lusa aku datang, dan kita bisa menguasai pertemuan. Love you Clar.

PS: Tulisanmu sudah kubaca, dari mulai cerpen, puisi, hingga semua diksi cemerlang yang kau tanam disemua tulisanmu. Clar, tulisanmu seindah rupamu. Dan untuk kesekian kalinya, aku dibuat jatuh cinta pada keduanya. Tunggu aku lusa nanti, aku datang membawa segembol rindu jahat yang nanti akan terpahat. Lewat pertemuan kita yang sudah tuhan kirimkan rahmat.


Tertanda,
Seorang yang rindu pelukan.

Selasa, 04 Februari 2014

Teruntuk sang pemilik Akar Pikiran.



Holla Iit Sibarani.

Sebelumnya, maafkan aku telah berani menyuratimu. Entah apa yang menjadikan aku ingin menulis semua ini, padahal masih banyak orang lain yang bisa ku kirimkan surat. Tahu dirimu saja belum lama, tapi sudah berani mengirimkan surat. Lancang sekali aku ini. Tapi. Jika kau mau marah? terserah, hukum aku jika kau mau. Yang pasti, aku mau kirim surat kepada sang pemilik akar pikiran ini. Ya, Iit Sibarani.

Kalau boleh, maafkan aku lagi. Sebab, aku telah jatuh hati pada apa yang ada di dirimu. Paras, tulisan, serta kata indah yang selalu bisa menghipnotisku untuk membaca tulisanmu, lagi..lagi..dan lagi.
Adapun jika engkau bisa bertanya, "Bagaimana kau bisa cinta? Sedang kau saja baru mengenalku?".  Hmm.. benar memang, tapi disini kita membicarakan perasaan, bukan tentang pengetahuan.

Kalau boleh sombong, aku adalah penikmat karyamu nomer satu loh. Walaupun banyak diluar sana yang sama halnya seperti ku; Yang bisanya hanya mengaku-ngaku.
Tapi, gak ada salahnya menyandang predikat pada diri sendiri, bukan? "Aku, penggemar karya Iit nomor satu".

Kepada perempuan yang matanya dapat menghangatkan.
Kepada perempuan yang pelukannya adalah senyaman-nyaman nya rumah.
Kepada perempuan yang tulisannya mampu membangunkan.
Juga kepada perempuan yang hatinya tempat terindah dari semua singgah.
Perempuan itu masih sama; Iit Sibarani. Aku mengaguminya.

Jika kau bilang, "Halah, kau terlalu berlebihan dalam memuji ku, kawan". Maka aku dengan ramah menjawabnya.

"Lalu, dengan apa tuhan menciptakan suatu yang indah? Jika tidak dipuji-puji sesuai benar adanya."

Hmm, oiya. Satu pesan dariku. Tulislah semua karya dari tangan ajaib itu lagi, karna, kalau bukan dengan tulisan? bagaiman mereka yang mencintaimu mengenang setelah adanya mati. Mari tulis lagi, buatlah mereka, semua orang, pecinta (karya) mu, dan aku menjadi satu yang sama. Candu dalam membaca.

Sekiranya itu saja dari saya, Terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca surat dariku.

Tertanda,
Iky

Rabu, 11 September 2013

Kepergian kasih

"Aku Putri. Aku tak mengerti, apakah ini yang dinamakan penyesalan? atau cukup dijadikan kenangan yang harus diceritakan? Entahlah, namun sesak yang selalu ku dapat ketika teringat sosok dirimu. Inilah dimana keadaan mengharuskan ku untuk menangis, tak sanggup untuk ku berpura menahan deras nya air mata penyesalan ini, dan aku baru merasakan, seseorang yang sering diabaikan dialah yang sangat berarti ketika dia telah pergi"

Putri dulu memiliki seorang kekasih bernama Danu, hubungan mereka terbilang cukup lama, sekiranya dua tahun enam bulan menjalin kasih. Namun, hubungan mereka kandas di tengah jalan akibat sifat Putri yang cemburuan dan egois. Danu memilih untuk meninggalkan Putri, karna menurutnya lebih baik jujur dan meninggalkan nya, dibanding harus bertahan dan terus-terusan mendapat sakit yang sama.

5 Bulan berlalu

Putri dan Danu pun sekarang memiliki kehidupan masing-masing. Putri yang saat ini masih sibuk dengan sekolahnya yang sebentar lagi mau memasuki fase kelulusan. Kebetulan Putri kelas 3 Sma dan Danu satu tingkat dibawah nya. Tak disangka, 5 bulan berlalu Danu pun membuka hatinya untuk wanita cantik bernama Kinan. Seiring berjalan nya waktu, Putri pun cemburu melihat keakraban mereka berdua.

Namun, jangan karna ada sebuah senyum di wajah, seseorang dapat mengambil kesimpulan bahwa dia sedang bahagia. Di depan teman.. Danu memang tersenyum, tapi tidak dengan hati nya. Itu yang dirasakan Danu setelah berpisah dengan Putri. Sungguh perasaan tidak dapat membohongi. Ketika mulut berkata seadanya namun hati mengucap banyak untuk berharap. Danu pun masih menyayangi Putri, namun itu terhalang oleh keadaan. Iya, kini dia sudah dimiliki Kinan.

Semua berjalan seperti biasanya, hari demi hari berganti. Putri pun masih berharap akan cinta nya Danu. Dibalik itu, Putri tidak tahu bahwa Danu pun masih sayang terhadap Dirinya. Sampai saat nya tiba, Saat itu ulang tahun Kinan yang ke 17. Kinan mengundang banyak teman sekolah untuk menghadiri pesta ulang tahun yang diadakan dirumahnya. Termasuk Sarah. Sarah itu teman sebangku Kinan di SMA Taruna. Dan kebetulan Sarah itu sahabat nya Putri.

Hari ulang tahun Kinan pun tiba, Sarah pun bergegas untuk pergi kerumah Kinan, namun dia enggan pergi sendiri. Sarah pun mengajak Putri untuk ikut ke pesta ulang tahun Kinan.

"Put, ikut gue yuk. Ke pesta ulang tahun nya Kinan. Kenal Kinan, kan?" Ucap Sarah.

"Iya gue tau, cewek nya Danu kan? Yang ada gak bisa moveon gue kalo disana, disana pasti ada Danu" Ucap Putri.

"Yaelah Put, profesional dong. Itung-itung nemenin gue. Gue males kesana sendiri, mau ya mau ya?" Ucap Sarah membujuk.

"Hmm..tapi, yaudahlah." Ucap Putri Geram.

Sesampainya dirumah Kinan, Pukul 19.45 WIB. Putri pun mengurungkan niat untuk memasuki rumah tersebut. Namun Sarah terlanjur mengetuk daun pintu rumah Kinan. Putri khawatir jika dia bertemu dengan Danu, dan dibenaknya cuma ada rasa takut. Rasa takut bahwa Danu sudah cerita ke Kinan bahwa dirinya itu mantan kekasihnya Danu. Kinan keluar dengan wajah yang sedikit murung.

"Hey, lo udah dateng Sar? Itu siapa?" Ucap Kinan.

"Iyanih, oh iya kenalin. Ini sahabat gue, Putri." Ucap Sarah memperkenalkan Putri kepada Kinan.

"Gue Putri, salam kenal yaa" Ucap putri menjulurkan tangan. "Dia gak tau gue? hmm.. mungkin Danu belum cerita soal gue ke Kinan" Ucap Putri dalam hati.

Pesta pun berjalan lancar, dan ditemuilah Danu didalam pesta tersebut oleh Putri. Wajah mereka berhadapan, mata pun saling bertemu, seakan tubuh memiliki isyarat bahwa rindu tak bisa lagi diungkapkan. Rindu yang mereka sembunyikan sedemikian rupa tentang harapan agar bisa memeluk satu sama lain namun terhalang oleh perasaan yang enggan.

Putri tak dapat menahan kuasa, dia memutuskan pulang tanpa sepengetahuan Sarah. Sesampainya dirumah, tanpa sadar tak dapat ia menahan derasnya air mata. Selalu teringat oleh kesalahan yang diperbuat nya dulu, yang menyebabkan Danu pergi meninggalkan nya.

Danu pun sadar bahwa di pesta tersebut sudah tidak lagi terlihat batang hidung Putri. Danu penasaran, kemudian dia bertanya pada Sarah.

"Hey, Sar. Lo liat Putri gak?" Ucap Danu.

"Putri? Oiya, dia kemana ya dari tadi gak keliatan? gue juga gak tau Nu.." Ucap Sarah yang juga kebingungan.

Pesta pun usai, Danu, sarah serta temen-temen sekolah Kinan pamit untuk pulang. Namun, ketika sudah mulai jauh dari rumah Kinan. Danu berniat mau ngajak Sarah ngobrol diluar.

Danu memulai pembicaraan, Dia tak lagi mampu menahan perasaan nya. Danu curhat kepada Sarah bahwa hati nya yang masih mengharapkan Putri. Saat itu pukul 21.03 dan suasana cafe pun masih ramai dikunjungi oleh para pengunjung. Tapi ada satu pesan Danu untuk Sarah, bahwa menyuruh sarah agar merahasiakan cerita nya tersebut. Jangan sampai Putri tau.

***
Setahun kemudian.

Pukul 08.24 WIB, Terlihat seorang berkulit putih duduk termenung di kedai kopi sambil melihat jendela yang sedikit terbuka dan dibasahi oleh basah nya embun pagi. Iya, dia Danu. Tempat ini tempat pertama kali Danu dan Putri berkenalan, bercengkrama sampai akhirnya pun menjalin ikatan. Dan mungkin tempat ini bisa dijadikan saksi bisu cinta mereka.

Namun sekarang semua ini cuma kenangan, Putri pun udah meninggalkan negeri ini, setelah lulus dia lebih memilih tinggal di luar negri untuk kuliah disana. Tepatnya di Australia. Kebetulan, Kinan dan Danu pun putus sudah lumayan lama, karna faktor Danu yang mulai berubah.

***
Hari demi hari terlewati, tak ada kabarpun dari sahabatnya di indonesia. Saat itu Putri iseng-iseng buka laptop. Dia kaget, bengong, serta bahagia Putri menerima email masuk dari Sarah, pesan tersebut berupa:
"Put, gimana kabar lo disana? baik kan? gue kangen tau hehe. Oiya, ada yang mau gue omongin sama lo, ini mengenai Danu put. Jujur, dia masih sayang sama lo. Dia pacaran sama Kinan bukan atas dasar cinta, cuma mau belajar ngebuka hati nya aja, tapi semua itu percuma put. Dia sayang nya cuma sama lo. Waktu itu dia pernah bilang sama gue. Percaya put sama gue, lo tinggal disana bukan semata-mata mau menghindar dari Danu kan, put? Please balik lagi. Gue, Danu kangen sama lo." Ucap Sarah.

Putri masih bingung, dia bimbang. Apakah pulang atau tetap tinggal. Dan Putri akhirnya mengambil keputusan, bagaimana kalau dia pulang buat menemui sahabat serta mantan nya, setelah itu dia balik lagi ke Australia untuk meneruskan kuliah nya.

***

Hari yang di nanti pun tiba, setelah tiga hari penerbangan akhir nya Putri pun sampai di tanah air. Saat itu pukul 16.45 WIB. Danu pun sengaja menjemput Putri di bandara, karna sebelumnya Danu dan Sarah sudah kong kali kong atas semua ini.

"Loh, kok kamu disini Dan?" Ucap Putri.

"Sengaja kok. Mau jemput kamu" Ucap Danu.

"Udah lama banget ya kita gak ngomong kaya gini" Ucap Putri dengan senyuman.

"Iya, udah lama banget ya" Ucap Danu.

Mereka pun terbawa suasana, Putri pun berbicara ditelinga mungil nya Danu; "Dan, maafin kesalahan aku waktu dulu ya, maafin aku kalo sifat aku kaya anak kecil, aku sayang kamu." Danu pun berbicara; "Aku juga sayang banget sama kamu, kamu gak perlu minta maaf, karna cinta yaitu proses pembelajaran. Kalo kamu salah gausah minta maaf, asal kamu introfeksi dan berusaha untuk gak mengulangi kesalahan tersebut"

"Tapi ini gak akan bertahan lama Dan, cepat atau lambat pasti aku balik lagi ke Aus. Kuliah lagi disana, jujur aja aku berat ninggalin kamu. Aku gamau kita jauhan kaya gini, tapi entahlah. Tuhan berkata lain" Ucap putri.

"Aku paham, kamu berdoa aja sama tuhan. Berdoa yang baik-baik. Itu bukan karna suatu keharusan. Cuma, apa yang menurut dia baik udah pasti baik buat kita. Jaga perasaan aku disana ya" Ucap Danu sambil merangkul putri.

***

Satu minggu berlalu, semua pun berjalan dengan baik. Seperti hubungan mereka yang semakin baik. Tiba saat nya untuk perpisahan. Karna disetiap pertemuan pasti akan selalu ada perpisahan. Itu berarti mereka harus terpisahkan oleh jarak. Dimana dia harus belajar saling mempercayai walau raga berjauhan. Menjaga hati walau tak saling bertatapan. Mendoakan satu sama lain.

Putri pun mulai mendekatkan mulut nya mengarah ke telinga Danu. Dia berkata: "Dan, Baik-baik ya. Jaga perasaan aku. Gausah takut dengan jarak. Jarak itu guru buat kita, dia mengajarkan banyak hal. Mulai dari kepercayaan dan masih banyak lagi. Jangan pernah lupain kenangan kita, jangan pernah lupain kisah manis kita. Jujur, kalo kamu nanya aku takut atau engga bila ninggalin kamu, ya jawaban nya satu, aku udah pasti takut. Aku takut kamu berpaling dari aku lagi. Dan, aku sayang kamu. Love you:*

Danu pun menjawab: "Tenang aja, maling gak akan masuk kalo pintu rumah dikunci, jadi masing-masing dari kita gak perlu takut. Kita kunci hati kita rapat-rapat biar gak ada orang lain yang masuk, aku juga sayang sama kamu, hati-hati disana yaa:*




Tamat.








.