Jumat, 07 November 2014

Suatu tempat yang dituju


1/
saat itu ia berjalan ke pepohonan
mendengar kabar bahwa tak lama mereka akan mati, oleh gergaji
oleh manusia-manusia serakah
oleh pengecut berjiwa pongah
ia berjalan lagi terhenti pada sungai
mendengar kabar bahwa tak lama akan tercemar, oleh sampah
oleh mereka yang katanya pintar
yang nyatanya tak pernah sadar


2/
ia meneruskan jalan dan terhenti pada jiwa-jiwa kelaparan
yang penuh luka-luka, merah hitam
yang tabah lukanya digerimingi kawanan lalat,
berdarah! dari basah hingga kering sendiri
ia teruskan perjalanan
tak pernah berhenti, tak pernah minum
sampai kaki telanjangnya berdarah
sebab perjalanan yang teramat jauh

3/
ia melihat seorang ibu menangis
menutup erat gendang telinganya
seperti ada gemuruh, halilintar yang menggelegar
mendengar tangis bayinya yang gagu kelaparan


4/
sampai dia yang adalah aku benar-benar terhenti
padamu yang semesta
sampai dia yang adalah aku tiba
pada tempat yang dituju;
yaitu matamu yang semesta, tempat aku meringkuk
istirahat dari realita alam di duniaku
sebab di realita, pesakitan bukan berita baru
maka izinkan aku sekedar berlama-lama di bola matamu

 ________

Gubuk tua, 7 november 2014.

Rabu, 23 Juli 2014

Aku ingin

Aku ingin menjadi angin
Membelaimu lembut kala tertidur
Mengecupmu pelan kala mendengkur
Berkali-kali tanpa ketahuan,
Aku memang penakut; sebab lebih
memilih sepoi dibanding topan.
(Bekasi, 23 July 2014 - kakitelanjang)

Sabtu, 12 Juli 2014

Rupanya kita perlu hati-hati

Rupanya kita perlu hati-hati..
Ibarat kaca, jangan ditekan jika tak mau pecah,
Seperti hujan, gunakan payung jika tak mau basah.

Rupanya kita perlu hati-hati..
Memberi hadiah pada kekasih.
Jangan memberinya bambu runcing bernama kecemburuan,
Berilah makanan berupa perhatian.

Rupanya kita perlu hati-hati..
Jangan sesekali bermain dengan yang lain.
Rupanya kita perlu hati-hati..
Membangun rumah yang rusak pasti lebih sulit dibanding menghancurkan.


(Bekasi, 12-Juli-2014)

Diding dan impiannya

Tepat 14 tahun yang lalu,
Seorang anak kecil terlahir ke dunia,
Dengan tangis ia menyapa Ibu tanpa Ayah yang mengadzaninya.
Diding, seorang anak dengan ratusan bapak, itulah julukannya.

Kini ia sudah besar,
Berteman dengan preman pasar.
Temannya semua pernah dipenjara,
Dari pembunuhan, merkosa, bahkan ada yang pernah nyopet uang negara

Kini ia sudah besar,
Mabuk, narkoba, teler, dianggap hal yang wajar.
Maklum, Bapak tak punya, Ibu mati jadi pelacur, jadi tak ada yang mengajar,
Di jalan ia belajar, di jalan ia tak gentar.

Suatu ketika,
Diding dan teman-temannya dalam keadaan mabuk,
Diding berkata ngawur "Siapa yang bisa adzan?"
"Susah, Ding. Yang lain saja" Sahut teman-temannya.

Diding menangis mengingat impiannya.
Belajar adzan, agar bisa mengadzani dirinya.
Dan mengajak teman-temannya yang dianggap bapak,
agar bisa mengadzani buah hatinya. Kelak.

Sesederhana itu impian bocah belakang pasar.

(Bekasi, 12-Juli-2014)

Rabu, 09 Juli 2014

Puisi untuk mereka yang tabah

Setiap hari, rintihan terdengar dari suara-suara bocah di balik reruntuhan
Ia menangis, berlindung di balik ketiak ibundanya yang telah mati. Mereka sesenggukan.
Arang dipotek dijadikan pena, ditulisnya puisi sederhana;
"Dengan air mata kami berdiri, dengan doa kami berani, bahkan sampai mati kami akan memeluk agama kami"

Setiap hari, kepala keluarga, seorang ibu, terjatuh dan tertatih
Menghindari bom yang jatuh, yang membuat ledakan, mencipta kepulan hitam sehingga awan mereka tak lagi putih.

Setiap hari balita bertanya, benda apa yang menempel di dahinya.
Ia pikir ada yang mengajak main,
Ialah benda kejam yang membuat dirinya sakit bukan main.
Ternyata selongsong laras panjang yang mengancam lunak kepalanya.
Sampai waktunya tiba, sebutir peluru menelusup menembus belakang kepalanya.

Di sana, di belahan bumi sana,
Mereka berbuka puasa dengan segelas air mata
Setelah usai, mereka kembali menyolati saudara-saudaranya.

Di langit, malaikat terenyuh, mereka tersentuh
Syahadat tetap berkumandang di tengah panasnya arang.
Di sana, di Palestina, ribuan air mata jatuh
Mengusap luka-luka yang sangat perih pada tubuh.

Saudaraku, kami mendoakanmu.

#PrayForGaza #SavePalestine

Rabu, 11 Juni 2014

Ada cinta di bulan juni

Lautan ungu kehitaman, ombak menyisir pelan;
Mentari bulat samar terlihat, tertutup awan hitam
Dan pasir putih tampak telah disetubuhi,
Oleh kaki seseorang yang menari-nari

Diikuti jejak hingga sampai
Dilihat seseorang yang ditutuju sedang termangu --menunggu.

Dihampiri
Tak ada yang bersuara;
Kecuali angin yang menguping lewat debar dada masing-masing.

Seketika hening, mata mereka saling bertemu, bibir seakan tertarik untuk saling bergerak maju
Lalu dilahapnya mendung di langit oleh dua hati,
Bergumul dua lidah dan beranaki hujan puisi,


Lalu di Langit Sapardi bersabda;
"Sudah kugariskan, akan banyak cinta di bulan juni".

Saat itu juga dua hati resmi, menjadi sepasang kekasih.


(Bekasi, 11-Juni-2014)
Rizky Fadillah

Minggu, 27 April 2014

Jika lelakimu...

Jangan jadi perempuan yang hanya diam.
Jika lelakimu salah, Marahlah.
Jika lelakimu lebih marah ketika kau marah, tinggalkanlah.
Dari situ engkau mengerti apa itu kelayakan.